
BCA Investasi Triliunan Rupiah Untuk Keamanan Siber
BCA Semakin Memperkuat Posisinya Dalam Era Layanan Perbankan Digital Dengan Mengalokasikan Investasi Triliunan Rupiah Untuk Keamanan Siber. Langkah strategis ini di ambil sebagai respons terhadap semakin kompleksnya ancaman digital di tengah pesatnya pertumbuhan transaksi perbankan online dan penggunaan aplikasi digital oleh nasabah.
Investasi ini merupakan bagian dari alokasi modal belanja atau capital expenditure (capex) yang di prioritaskan untuk memperkuat sistem digital BCA agar tetap tangguh dan terlindungi dari berbagai bentuk kejahatan siber. Menurut pernyataan yang di sampaikan oleh pejabat BCA, sekitar 30% dari belanja modal IT di alokasikan khusus untuk keamanan sistem digital. Yang nilainya dipastikan mencapai triliunan rupiah.
Alasan di Balik Investasi Besar untuk Keamanan Siber
Keputusan BCA ini muncul di tengah meningkatnya ancaman siber yang di tujukan pada lembaga keuangan dan konsumen secara umum. Perkembangan teknologi telah mempercepat berbagai layanan digital. Tetapi di sisi lain membuka peluang bagi pelaku kejahatan siber untuk melakukan penipuan, pencurian data, dan serangan lainnya. Penyediaan anggaran besar ini dimaksudkan untuk memperkuat sistem pertahanan digital bank, sehingga transaksi nasabah dan data keuangan mereka tetap aman.
Dalam forum diskusi BCA Expoversary 2026, SVP IT Security BCA Ferdinan Marlim menjelaskan bahwa bank telah menerapkan sistem keamanan siber multilayer yang ketat guna menutup celah yang bisa di manfaatkan pihak tidak bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa investasi tersebut di pilih sebagai pendekatan utama untuk menjaga kepercayaan nasabah. Khususnya untuk layanan digital seperti internet banking, mobile banking, dan transaksi elektronik lainnya yang saat ini mendominasi aktivitas perbankan.
Peran BCA dalam Edukasi dan Perlindungan Nasabah
Selain memperkuat sisi teknologi, BCA juga aktif menjalankan program edukasi kepada nasabah untuk meningkatkan kesadaran akan ancaman siber seperti phishing, penipuan melalui tautan berbahaya, atau manipulasi data pribadi. SVP Wholesale Transaction Banking Product Development BCA, Martinus Robert Winata. Mengatakan bahwa nasabah di imbau untuk berhati-hati dalam menjaga kerahasiaan data pribadi dan mengenali modus penipuan yang semakin canggih.
Beberapa langkah praktis yang di sarankan BCA kepada nasabah antara lain adalah membuat kata sandi yang kuat. Tidak membagikan informasi pribadi di media sosial atau kepada pihak yang tidak di kenal. Serta berhati-hati saat menggunakan jaringan Wi-Fi publik. Langkah pencegahan ini di maksudkan untuk meningkatkan ketahanan digital nasabah itu sendiri. Yang menjadi bagian penting dari keseluruhan strategi keamanan siber bank.
Latar Belakang Tantangan Keamanan Siber di Sektor Perbankan
Investasi BCA ini mencerminkan tren yang lebih luas di sektor perbankan dan teknologi informasi. Di mana perusahaan besar mulai melihat keamanan siber bukan hanya sekadar biaya operasional, tetapi investasi strategis jangka panjang. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus penipuan digital dan ancaman siber meningkat seiring dengan adopsi layanan digital yang semakin luas di masyarakat. Berdasarkan laporan, Indonesia bahkan menghadapi lebih dari 400.000 laporan penipuan digital sepanjang tahun 2025, dengan total kerugian mencapai sekitar Rp9 triliun — termasuk ribuan laporan khusus dari nasabah BCA.
Tren global juga menunjukkan bahwa investasi dalam keamanan siber menjadi prioritas strategis karena bisnis digital semakin rentan terhadap ancaman baru. Seperti malware, serangan phishing, dan eksploitasi otomatis berbasis AI. Organisasi di Indonesia bahkan tercatat lebih agresif dalam memperkuat strategi siber dibandingkan rata-rata di Asia Pasifik dan dunia.
Manfaat Investasi untuk Kepercayaan dan Stabilitas Digital
Dengan investasi yang besar dalam keamanan siber, BCA bukan hanya melindungi sistem internalnya. Tetapi juga mendorong kepercayaan nasabah terhadap layanan digital yang kini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Memastikan keamanan data dan transaksi digital nasabah akan membantu bank memperkuat loyalitas, sekaligus menahan dampak negatif dari ancaman siber di masa depan.