
Rupiah Menguat, Sejumlah Mata Uang Asia Tertekan
Rupiah Menguat Tipis Terhadap Dolar Amerika Serikat, Berbanding Terbalik Dengan Sebagian Besar Mata Uang Utama Asia Justru Mengalami Tekanan. Nilai tukar rupiah Indonesia di pasar spot mencatat pergerakan yang menarik pada perdagangan Selasa pagi, 27 Januari 2026. Pergerakan ini mencerminkan dinamika pasar keuangan global dan respons investor terhadap data ekonomi serta ekspektasi kebijakan moneter di masa mendatang.
Pada awal perdagangan Selasa pagi lalu, Rupiah di buka menguat tipis ke level sekitar Rp 16.780 per dolar AS dibanding posisi penutupan sebelumnya di sekitar Rp 16.782 per dolar AS. Meski penguatannya sangat kecil sekitar 0,01 persen rupiah. Menunjukkan ketahanan relatif di tengah mayoritas mata uang Asia yang melemah.
Pergerakan Rupiah yang tipis ini menunjukkan bahwa tekanan jual tidak dominan. Dan pasar mencoba menemukan keseimbangan antara kekuatan dolar AS dan permintaan terhadap aset keuangan Indonesia. Kinerja rupiah yang sedikit menguat di hari tersebut seringkali di pengaruhi oleh sentimen global maupun faktor teknikal pasar yang lebih luas.
Rupiah Menguat Mayoritas Mata Uang Asia Tertekan
Data perdagangan menunjukkan bahwa beberapa mata uang di kawasan Asia mengalami tekanan terhadap dolar AS. Misalnya, won Korea Selatan tercatat menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam, turun sekitar 0,57 persen. Di susul oleh baht Thailand yang melemah sekitar 0,37 persen serta peso Filipina yang tertekan sekitar 0,18 persen terhadap greenback.
Tekanan pada mata uang Asia ini mungkin di pengaruhi oleh kombinasi faktor global, seperti konsolidasi pasar menjelang data ekonomi penting dari AS, ketidakpastian kebijakan moneter, maupun pergerakan indeks dolar AS yang sering kali menjadi acuan kekuatan relatif mata uang dunia. Ketika indeks dolar menguat, banyak mata uang ekonomi berkembang (emerging market) mengalami tekanan.
Faktor Sentimen dan Ekspektasi Pelaku Pasar
Analis mata uang menilai bahwa penguatan rupiah yang relatif kecil itu bersifat sementara dan di dukung oleh pola “wait and see” investor menjelang keputusan penting di pasar global. Terutama hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Federal Reserve AS tentang arah suku bunga. Ketidakpastian tersebut membuat pelaku pasar berhati-hati dalam mengambil keputusan besar sampai gambaran kebijakan moneter yang lebih jelas muncul.
Selain itu, faktor teknikal juga berperan dalam stabilitas rupiah. Ketika pelaku pasar tidak melihat dorongan kuat dari data ekonomi domestik atau global yang memaksa perubahan besar. Kemudian valas cenderung bergerak dalam kisaran sempit. Hal ini mendukung penguatan tipis seperti yang terlihat pada perdagangan Selasa pagi lalu.
Intervensi Bank Indonesia dan Stabilitas Pasar
Bank Indonesia (BI) terus berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, terutama di tengah volatilitas pasar global. BI secara berkala menggunakan instrumen pasar seperti operasi pasar spot dan non-deliverable forward (DNDF) untuk meredam gejolak yang terlalu tajam. Intervensi juga di lakukan untuk menjembatani kesenjangan permintaan dan penawaran valas di pasar domestik.
Dalam konteks ini, pasar mata uang Indonesia berada dalam payung policy yang mendukung stabilitas jangka menengah. Terutama saat kondisi global masih menunjukkan tanda ketidakpastian, termasuk potensi perubahan suku bunga AS dan data ekonomi lainnya yang dipantau ketat investor.
Prospek Pergerakan Rupiah ke Depan
Meski rupiah mencatat penguatan tipis, analis umumnya memperkirakan bahwa volatilitas masih tetap tinggi dalam jangka pendek karena pasar global masih di pengaruhi oleh kebijakan moneter di AS dan kondisi ekonomi global secara umum. Pergerakan selanjutnya bisa tergantung pada hasil rapat FOMC, data inflasi AS. Serta arah suku bunga acuan yang di umumkan Federal Reserve.
Jika The Fed memberikan sinyal pelonggaran atau jeda kebijakan yang dovish, mata uang negara berkembang seperti rupiah berpotensi menguat lebih signifikan. Sebaliknya, jika suku bunga tetap tinggi, tekanan terhadap rupiah dan mata uang Asia yang lain bisa meningkat lagi.